MUI, Masukkan Materi Bisnis Dalam Pendidikan

MUI : Masukkan Materi Bisnis Dalam Pendidikan

Berita Pendidikan

systemmontessori.org – Sekertaris Jenderal MUI (Majelis Ulama Indonesia), Anwar Abbas berusaha agar materi bisnis bisa masuk kedalam dunia pendidikan Indonesia. Hal ini bukan tanpa alasan, karena bila dimulai dari dini tentu jiwa bisnis dan para pengusaha bisa banyak tumbuh dikemudian hari.

“Pada sistem pendidikan di Negara kita ini belum ada yang namanya materi bisnis yang aktual, perlu dimunculkan dan dijadikan kebiasaan akan hal ini,” ucap Abbas, Selasa (26/4/2019).

Dia menjelaskan bahwa pendidikan di Indonesia ini cenderung ke arah terori, dan hal ini sebenarnya tertinggal dengan apa yang dibutuhkan pasar saat ini. Harusnya pendidikan itu harus bisa sesuai, apa yang diajarkan harusnya apa yang dibutuhkan pasar.

Untuk jenjang perguruan tinggi, dirinya memberikan contoh bahwa kampus harusnya mengkaji lagi kurikulumnya sehingga tidak sampai tertinggal dengan apa yang dibutuhkan pasar. Selain itu, ada baiknya bila teori yang diajarkan dikurangi dan mengubahnya dengan praktek lapangan.

“Perbaikan akan lebih efisien dan tertuju bila dimulai dari jenjang pendidikan, pasalnya ilmu pengetahuan dan teknologi itu terus berkembang dan berkesinambungan. Perguruan tinggi di Indonesia sering mengalami keterlambatan kurikulum, sehingga perlu kreativitas agar bisa menghasilkan benih pengusaha,” tambah Abbas.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini menambahkan bahwa pendidikan di Indonesia saat ini telah tertinggal dengan kenyataan yang dibutuhkan pasar, dimana banyak kampus yang mengajarkan mengenai bisnis-bisnis yang telah terlampau jauh.

“Kita lihat saja realitas saat ini, dulu bisnis angkot jaya namun saat ini redup, kemudian bisnis pengetikan atau warnet yang sempat jaya, namun saat ini juga redup bahkan banyak yang gulung tikar,” pangkas Abbas.

Untuk para dosen yang mengajar atau berperan penting dalam dunia pendidikan dan perguruan tinggi, Abbas berharap besar pada mereka untuk mampu menjadi fasilitator bagi murid dan mahasiswanya. Agar lebih jelasnya, peran dosen bukan sebagai pengajar konvensional melainkan pemfasilitas para mahasiswa agar mampu mengeluarkan kreativitas dalam dirinya sesuai minat.

Melihat hal ini memang kenyataan di lapangan berbeda jauh dengan kenyataan di lapangan, dimana pendidikan lebih mementingkan teori ketimbang prakteknya. Sehingga mahasiswa dan murid yang memiliki kemampuan kurang dalam teori kesulitan untuk bisa mengimbanginya, dan ini yang menyebabkan terjadinya kesenjangan ilmu di setiap mahasiswa di Indonesia.

Sangat perlu untuk dilakukan perbaikan proses pendidikan di Indonesia, sehingga pasar atau peluang kerja menjadi lebih besar untuk bisa dimasuki tanpa adanya persaingan yang berat. Memang dalam dunia kerja memang banyak yang namanya persaingan, namun bila seseorang sudah paham sejak dini maka persaingan itu bisa dilaluinya secara sehat.

Demikian artikel mengenai dinamika pendidikan di Indonesia, semoga dengan adanya artikel ini bisa menambah wawasan anda mengenai perkembangan dunia pendidikan di Indonesia.