fakta miring dunia kampus

Fakta Miring Soal Dunia Kampus di Indonesia 

Berita Pendidikan Panduan Serba-Serbi

Pembahasan kali ini akan membahas tentang fakta mirip soal dunia kampus di Indonesia. Pendidikan Kampus atau di Universitas adalah jenjang pendidikan tinggi selepas Sekolah Menenga Atas (SMA) yang pada pelaksanannya bertujuan untuk melahirkan para intelaktual bidang sesuai dengan Fakultas dan jurusan tempatnya menuntut ilmu atau kuliah.

Indonesia memiliki berbagai Universitas dengan reputasi mulai Nasional hingga Internasional yang memberikan sumbangsih bagi kehidupan bermasyarakat secara luas.

Namun meski secara ideal kampus bisa disebut sebagai “sarangnya intelektual”, tapi nyatanya masih ada hal-hal yang bisa disebut jauh dari ideologi kampus.

Hal-hal tersebut tak jarang mencoreng nama baik kampus dan merugikan civitas akademika yang bernaung pada almamater tersebut.

Meski hal-hal tersebut bisa dibilang minor namun faktanya masih ada dan terjadi. Artikel kali ini mencoba merangkum fakta miring seputar dunia kampus di Indonesia.

5 Fakta Miring yang Terjadi di Kampus-Kampus Indonesia

Mewujudkan pendidikan tinggi yang bersih dan bebas dari segala macam hal-hal bernada miring tentu bukan perkara mudah. Beberapa kasus sempat mencuat, dan satu ironi yang mengundang keprihatinan, hal tersebut terjadi di dunia pendidikan tinggi yang idealnya lekat dengan kehidupan akademik dan keilmuaan yang ketat.

Berikut ini adalah fakta miring dunia kampus dan rumor yang sering menggelayuti penyelenggaraan tinggi di Indonesia.

Baca juga : Mengenal Sistem Zonasi Dan Dampaknya Bagi Siswa

  1. Biaya Kuliah tak Realistis

Segala sesuatu membutuhkan biaya. Dan tentunya biaya kuliah sama sekali tak bisa dibilang murah. Perlu perjuangan keras agar seseorang bisa lulus dari fakultas tertentu. Terlebih bila fakultas tersebut tergolong populer dengan tingkat persaingan masuk yang tinggi.

Karenanya beberapa negara mulai mengusahakan keterlibatan pemerintah lewat berbagai macam program agar semakin banyak orang bisa menikmati pendidikan tinggi yang jadi salah satu pintu untuk merubah nasib dan bangkit dari keterpurukkan.

Meski di Indonesia sendiri, hal yang sama juga sudah diusahakan. Namun nyatanya dampaknya masih belum terasa signifikan.

Dan yang lebih ironi, meski biaya kuliah selangit dan adalah beban berat yang mesti ditanggung mahasiswa selama berkuliah, terkadang juga masih sulit menemukan posisi kerja strategis yang sesuai dengan jurusan kuliah.

  1. Kampus dan “Dunia Malam”

Banyak pihak setuju bahwa prostitusi adalah salah satu penyakit masyarakat yang mesti diperangi dan diminimalisir. Namun masih menjadi ironi, bahwa ada oknum mahasiswa ataupun mahasiswi yang terjerat dalam lingkaran serupa prostitusi.

Sebut saja hadirnya fenomena “ayam kampus” sebagai satu fenomena pelacuran yang terjadi dan melibatkan oknum yang tergolong masih civitas akademika.

Pun demikian dengan terjaringnya pengguna jasa prostitusi dan ternyata adalah juga bagian dari masyarakat akademik baik tenaga akademik maupun non akademik saat operasi susila digelar aparat penegak hukum.

  1. Kampus dan Lobi-Lobi Kursi

Seyogianya, lobi-lobi kursi terjadi di dunia politik untuk mendapatkan posisi dan kekuasaan tertentu. Namun hal yang sama ditengarai juga terjadi di dunia kampus.

Ini biasanya melibatkan oknum “orang dalam” yang melibatkan sejumlah uang agar pihak-pihak yang mengharapkan bisa menjadi mahasiswa di satu fakultas atau jurusan favorit di kampus tersebut.

Hal ini menjadi rahasia umum yang tentu mengurangi jatah kuota bagi calon mahasiswa yang mengandalkan pengetahuan dan berusaha masuk lewat jalur test reguler.

  1. Kampus dan Korupsi

Korupsi adalah tindakan yang sangat merugikan masyarakat dan negara. Tercatata beberapa kasus korupsi juga pernah melibatkan oknum kampus.

Salah satunya seperti yang terbongkar di Ibukota Jakarta yang melibatkan oknum kampus pada kasus korupsi pengadaan alat IT sebesar hingga 21 miliar rupiah.

Serupa tapi tak sama, kejadian yang melibatkan oknum kampus di pulau dewata Bali juga bisa jadi fakta lain bahwa di kampus sekalipun korupsi masih menjadi bahaya laten. Kasus di Bali berkait dengan korupsi lahan kampus yang ditaksir memberikan kerugian negara hingga miliaran rupiah.

  1. Ijazah Palsu

Tujuan dari seseorang kuliah salah satunya adalah untuk mendapatkan legalitas keahlian dan gelar yang dibuktikan dengan ijazah.

Hanya karena ingin singkat, beberapa oknum kampus juga terjaring operasi yang saat ini gencar dilakukan Dirjen Dikti untuk membersihkan kampus dari perkara jual beli ijazah semacam ini.

Itulah tadi beberapa fakta miring yang ditengarai masih membelit kehidupan akademik di Indonesia. Dengan mencuatnya berbagai kasus semacam ini seharusnya menjadi bukti untuk terus menguatkan upaya-upaya mewujudkan kehidupan akademik yang bersih, disiplin dan setia pada kebenaran sebagaimana ideologi keilmuan universal.